link2 dari google

Klik di sini untuk refresh halaman

Wednesday, March 25, 2026

<meta name="google-site-verification" content="7LMCEdOGQNtdiC-kuCtYi-t5hbVAebW8Yl10pok_ysA" />

Wednesday, February 12, 2020

Wednesday, March 6, 2019

Teknik Resampling Citra Satelit

Proses pengolahan citra mulai dari pembesaran (enlargement), pengecilan (shrinking), perputaran (rotating), koreksi geometri, rektifikasi, registrasi citra, pergeseran (translasi) dan lainnya. Semua proses pengolahan citra digital tersebut menggunakan resampling yang berarti merubah nilai piksel raster asal (domain) menjadi suatu nilai piksel raster hasil (kodomain). Terdapat tiga teknik resampling yang umum digunakan dalam proses resampling yaitu tetangga terdekat, interpolasi bilinear dan konvolusi kubik. Ketiga teknik ini sering digunakan perangkat lunak pengolahan citra secara digital. Untuk resampling dengan metode tetangga terdekat tidak mengubah nilai piksel asli dari input raster tetapi hasilnya menjadi jaggy atau checkerboard (kotak-kotak). Sedangkan untuk teknik resampling bilinear dan konvolusi kubik menghasilkan citra lebih halus tetapi membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dengan tetangga terdekat. Waktu tersebut digunakan untuk komputasi lebih rumit dibanding teknik tetangga terdekat.

https://www.academia.edu/11132543/Teknik_Resampling_Citra_Satelit

Saturday, April 14, 2018

Peta interaktif klhk

http://geoportal.menlhk.go.id/arcgis/apps/Viewer/index.html?appid=8f491695fab04bb99d03962bbd747abd


Wednesday, February 7, 2018

利用雷达图像监测印度尼西亚森林火灾研究

摘要
近些年来印度尼西亚的森林火灾事件大多发生在苏门答腊和加里曼丹地区,这是人类与森林相互作用的结果,如开放森林区域中的移动耕作。如果云层、烟雾和薄雾覆盖了一个采景地区的所有部分, 那么光学图像卫星的工作效果就很差。目前为止ALOS(l 波段) Sentinel-1 (c 波段)是森林退化监测中最有前景的雷达卫星图像。这些 L-HV C-HV 不仅对清除森林和火灾疤痕非常灵敏,还可以检测森林植被的变化。辐射校准过程中的关键是将其数字转换为后向散射系数或伽马值。随机森林和神经网络是确定森林或非林业区域 (如果雷达能准确检测到烧毁森林面积) 的分类方法。

Monday, September 7, 2015

Adding image with Ingesting DataDoors Software

               

Ogi Gumelar*), Rubini Jusuf*),Rita Silvana Arlis*), Riyan Mahendra Saputra*)
*)LAPAN
ogi.gumelar@lapan.go.id

Abstract
   

Datadoors Appliance serve image satellite using SCIMr software in unique way beside interesting if we see by visual. Ingesting system or can we called it half automated in finding satellite image and also preparing catalog system for imagery. Optical and radar image can be detected very well by SCIMr, the structure of radar seem to be more difficult to be ingested. There were several images which is not standard from the other images and those non standard cannot be displayed in catalog system. For example like the new image satellites ALOS2 PALSAR, SPOT-7, MODIS, NPP, etc. We can see how low spatial resolution can have bigger swath where can cover all of area in Indonesia in one single image. The format output of product processing can be selected according to option of datadoors system like Color Infrared, Copy source data, Shaded relief Color, Natural Color and etc.   
Katalog inderaja DataDoors Application

Website
http://inderaja-catalog.lapan.go.id/dd3/
merupakan katalog versi lain dari katalog bdpjn bdpjn-catalog.lapan.go.id.



Friday, July 26, 2013

Friday, July 12, 2013

Katalog bdpjn

Katalog bdpjn ini dapat digunakan untuk mencari data citra satelit yang tersedia di arsip LAPAN. Citra satelit tersebut seperti Landsat 5, Landsat 7, Landsat 8, SPOT-4, SPOT-5, SPOT-6, MODIS dan citra lainnya.

Thursday, July 11, 2013

Waktu santai

Waktu lenggang merupakan suatu nikmat, jadi nikmatilah waktu tersebut dengan sebaik-baiknya. 

Lapan

Ruangan depan Lapan 

Jadwal imsak DKI dan sekitarnya 1434 H


Ukuran file 101 KB dengan dimensi 354 x 630 piksel



Saturday, June 29, 2013

jalan2 malaysia

Bro n sista jika ada foto yang tidak ingin di upload tolong email ke saya
 















Tuesday, June 18, 2013

Landsat data continue mission

Landsat 8 or LDCM image satellites with 11 bands composition, these bands are band 4, 5 and 3.

Processing details of Landsat 8 Level 1 Products

Processing: Level 1 T- Terrain Corrected

Pixel Size: OLI multispectral bands 1-7,9: 30-meters
OLI panchromatic band 8: 15-meters
TIRS bands 10-11: collected at 100 meters but resampled
to 30 meters to match OLI multispectral bands

Data Characteristics:      
  • GeoTIFF data format
  • Cubic Convolution (CC) resampling
  • North Up (MAP) orientation
  • Universal Transverse Mercator (UTM) map projection (Polar Stereographic for Antarctica)
  • World Geodetic System (WGS) 84 datum
  • 12 meter circular error, 90% confidence global accuracy for OLI
  • 41 meter circular error, 90% confidence global accuracy for TIRS
  • 16-bit pixel values
Data Delivery: .tar.gz compressed file via HTTP Download

File size: Approximately 1 GB (compressed), approximately 2 GB (uncompressed)


Monday, June 17, 2013

Open government Indonesia

Open Government Indonesia (OGI) adalah sebuah gerakan untuk membangun pemerintahan yang lebih terbuka, lebih partisipatif dan lebih inovatif. Open Government Indonesia mulai didirikan pada tanggal 20 September 2011.
Yang menjadi anggota Tim Inti Open Government Indonesia (OGI) adalah Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan Pengendalian pembangunan (UKP-PPP), Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Komisi Informasi Pusat (KIP), Kementerian Dalam Negeri (Kemdagri), Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB), Sekretariat Nasional Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Seknas FITRA), Pusat Telaah dan Informasi Regional (PATTIRO), Indonesian Center for Environmental Law(ICEL), dan Transparency International Indonesia (TII).
Open Government Indonesia (OGI) adalah bagian dari gerakan global Open Government Partnership (OGP) yang saat ini memiliki 58 Negara anggota (dan terus bertambah), dimana pada tahun 2013 ini Indonesia dan Inggris bersama-sama menjadi co-chairmanship.
Landasan hukum Open Government antara lain:
-          UU No 14/2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik
-          UU No 37/2008 tentang Ombudsman Republik Indonesia
-          UU No 25/2009 tentang Pelayanan Publik
-          Permendagri 35/2010 tentang Pedoman Pengelolaan Informasi di Kemendagri dan Pemda
-          PP 61/2010 tentang Pelaksanaan UU 14/2008
-          Perpres 26/2010 tentang Transparansi Pendapatan di Industri Ekstraktif



http://opengovindonesia.org
http://satupemerintah.net


Logo Open Government Indonesia berangkat dari bentuk balon kata, menggambarkan dialog dan komunikasi dua arah yang tercipta di antara masyarakat dan pemerintah. Komunikasi yang positif akan menghadirkan transparansi, akuntabilitas, partisipasi masyarakat, dan inovasi, yang juga merupakan empat pilar utama dari gerakan OGI. Balon kata OGI digambarkan dengan lingkaran yang tidak terputus, mengaspirasikan harapan agar gerakan ini dapat berjalan terus.
Warna merah terang pada balon kata OGI merupakan semangat untuk berani melakukan perubahan kearah pemerintahan yang lebih transparan sehingga partisipasi publik meningkat.

Inisiatif OGI

Disahkannya Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP) tahun 2008 telah menghadirkan perubahan di Republik Indonesia. Ini merupakan penegasan, bahwa hak atas informasi setiap warga negara dijamin oleh negara. Artinya, pengawasan publik terhadap penyelenggaraan negara dan badan publik dapat dijalankan dengan lebih optimal.
UU KIP telah lama dinantikan. Dahulu, akses masyarakat terhadap segala macam informasi benar-benar terbatas. Informasi diberikan hanya jika diminta, semuanya dianggap sebagai hak institusi dan bersifat rahasia, kecuali yang dipublikasikan. Sesudah UU KIP disahkan, informasi pun menjadi hak warga negara. Kini semua informasi adalah milik publik, kecuali yang dirahasiakan, dan institusi wajib mempublikasikannya secara pro aktif, bahkan tanpa perlu diminta terlebih dahulu.
UU KIP adalah jalan menuju tata pemerintahan yang lebih akuntabel dan transparan. Presiden RI menginstruksikan keterbukaan di banyak kesempatan dan pidatonya. Mulai dari urusan tes CPNS, pengelolaan zakat, pengadaan barang dan jasa di institusi pemerintah, hingga penyaluran bantuan gempa, Presiden tak jarang mengulang kata “transparan.” Presiden menyadari bahwa kini masyarakat telah berubah. Masyarakat lebih tahu dan kritis akan haknya, serta lebih berkemauan untuk berpartisipasi aktif dalam proses tata kelola pemerintahan.
 Dengan kondisi seperti disebutkan diatas, institusi publik tidak boleh tidak siap. Banyak hal yang harus segera dikerjakan, mulai dari pembentukan pejabat pengelola informasi dan dokumentasi (PPID) di setiap kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah, hingga memperbaiki layanan masyarakat, khususnya dalam hal kejelasan prosedur, waktu, dan biaya. Keterlambatan melaksanakan UU dan instruksi presiden dapat berujung pada ketidakpercayaan masyarakat. Bahkan bukan tidak mungkin, ketidaksiapan badan publik menghadapi tuntutan masyarakat yang demikian akan berujung pada sengketa informasi.
Di sisi lain, dunia menunjukkan fenomena yang setali tiga uang dalam menggelorakan keterbukaan di negaranya masing-masing. Di Timur Tengah, Arab Spring menegaskan tuntutan masyarakat agar pemerintahnya yang selama ini tertutup berubah. Open Government Partnership (OGP), di saat hampir bersamaan, yang diinisasi oleh 8 negara, salah satunya Indonesia, juga tak kendur mempromosikan pentingnya transparansi, akuntabilitas, partisipasi masyarakat, dan inovasi demi terciptanya good public governance. Hingga hari ini, lebih dari 50 negara telah bergabung di dalamnya. Indonesia patut bangga mengingat perannya sebagai salah satu pendiri OGP, serta dipercaya untuk menjadi co-chair bersama Inggris mulai akhir tahun 2012 ini.
Sejalan dengan hal di atas, Open Government Indonesia (OGI) hadir sebagai suatu gerakan dari, oleh, dan untuk masyarakat Indonesia. OGI ada untuk mendorong terciptanya pemerintahan yang lebih transparan dan masyarakat yang lebih partisipatif. Dengan adanya gerakan bersama ini, pelayanan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan sehari-hari, seperti pendidikan, kesehatan, dan transportasi, diharapkan dapat menjadi lebih baik. Akuntabilitas anggaran, yang notabene berasal dari uang rakyat, juga diupayakan agar menjadi lebih jelas pertanggungjawabannya. Perubahan itu begitu dekat, mari dukung dan bergabung! (OpenGov)

Thursday, October 18, 2012

Alamat resolusi tinggi

http://www.digitalglobe.com/products#mapping&stereo-imagery _______________________________________________________________________________________ http://www.gsf.qc.ca/Teledetection/Digitalglobe/DigitalGlobe_en.html _______________________________________________________________________________________ http://www.gsf.qc.ca/Teledetection/Digitalglobe/Docs/WorldView2-DS-WV2.pdf _______________________________________________________________________________________ http://www.gsf.qc.ca/Teledetection/Digitalglobe/Docs/WorldView2-DS-WV2.pdf

Sunday, September 25, 2011

Sunday, August 21, 2011

Monday, April 11, 2011

Speroid(elipsoid) dan kulit bola(sphere)

Bentuk dan ukuran dari permukaan sebuah sistem koordinat geografis didefinisikan sebagai sebuah permukaan bola. Ini dikarenakan bumi direpresentasikan paling baik dengan sebuah speroid/elipsoid, kadang bumi dianggap sebagai sebuah permukaan bola agar perhitungan matematik menjadi lebih mudah diimplementasikan. Pengandaian bahwa permukaan bumi itu bulat seperti permukaan bola maka dimungkinkan untuk dibuat pemetaan berskala kecil (lebih kecil dari skala 1:5.000.000. Pada skala ini maka perbedaan antara permukaan bola dengan elipsoid tidak terdeteksi di peta. Bagaimanapun juga untuk menjaga akurasi peta berskala besar (skala 1:1.000.000 atau lebih) maka elipsoid dibutuhkan untuk merepresentasikan bentuk permukaan bumi. Diantara skala-skala tersebut, pemilihan sphere atau elipsoid akan bergantung pada tujuan peta dan akurasi datanya.

Definisi speroid

Sphere(kulit bola) mengacu pada sebuah lingkaran sedang speroid mengacu pada bentuk elips

Bentuk elips terbuat dari 2 buah jari-jari. Jari-jari yang panjang disebut sumbu semimayor sedang yang pendek disebut sumbu semi minor.

Perputaran dari elips dengan sumbu putarnya adalah sumbu semi minor maka akan menghasilkan sebuah speroid. Sebuah speroid juga dikenal sebagai oblate ellipsoid of revolution. Gambar berikut menunjukkan sumbu semi mayor dan semiminor dari speroid(elipsoid).

Sebuah speroid dibentuk dari sumbu semimayor (katakanlah “a”) dan semi minor (b) atau oleh a dengan flattening “f” nya. Flattening itu sendiri adalah perbedaan panjang antara dua sumbu yang dinyatakan dalam bentuk pecahan atau desimal. Rumus f:

f = (a – b)/a

Jika nilai f kecil maka digunakan nilai kebalikannya 1/f. Parameter speroid untuk WGS84 adalah

a = 6378137.0 meters

b = 6356752.31424 meters

1/f = 298.257223563

Nilai f berkisar dari 0 sampai 1. Jika nilai f adalah 0 berarti memiliki jari-jari yang sama dengan kata lain disebut sphere. Nilai f dari bumi kurang lebih bernilai 0.003353. Besaran lain yang mirip dengan f sebagai parameter pengukur bentuk speroid adalah eksentrisitas, e2.

2=a2-b2/a2

Pendefinisan speroid yang berbeda untuk pemetaan yang akurat

Bumi telah disurvey beberapa kali untuk dapat memahami permukaannya dan ketidakteraturannya. Survey-survey tersebut menghasilkan banyak speroid yang menggambarkan bumi.Secara umum sebuah speroid telah dipilih menurut kesesuaian lahan suatu negara atau sebuah wilayah tertentu, karena belum tentu sebuah speroid yang cocok dengan satu wilayah akan cocok juga dengan wilayah lainnya. Contohnya Amerika Utara menggunakan data speroid Clarke 1866. Panjang dari sumbu semimayor clarke 1866 adalah 6,378,206.4 meter sedang semi minornya adalah 6,356,583.8 meter.

Karena dari berbagai macam gravitasi dan permukaannya bumi bukanlah suatu sphere atau elips ideal. Teknologi satelit telah menemukan beberapa penyimpangan bentuk elips , contohnya Kutub selatan lebih dekat ke ekuator jika dibandingkan dengan Kutub Utara. Maka telah digantikan speroid lama berbasis ground/darat dengan speroid yang berbasis satelit.

Contohnya speroid standar baru untuk Amerika Utara adalah GRS 1980 yang memiliki jari-jari 6,378,137.0 dan 6,356,752.31414 meter.

Parameter speorid GRS 1980 telah ditetapkan oleh International Union for Geodesy and Geophysics in 1979. Karena untuk mengubah sistem koordinat maka akan mengubah juga semua nilai koordinat, banyak organisasi yang belum menggantikan speroid yang lebih akurat